Jumat, 11 Maret 2011

Pidato Damai Gus Dur

Assalamualaikum Wr. Wb.
     
     Para pemirsa sekalian, para hadirin dan hadirat yang ada di ruangan
     ini, saya merasa berbahagia dapat berada di sini, diberi tugas
     untuk menghantarkan pidato nanti yang adalah pidato saya juga. Tapi
     karena saya tidak melihat, jadi tidak bisa membaca, akan dibacakan
     oleh Saudara Wimar Witoelar.
     
     Prosesnya begini, beberapa hari yang lalu, Saudara Singgih dari
     Panitia Perintis Kemerdekaan datang menemui saya, dan meminta agar
     supaya saya keluar dengan Ibu Megawati Soekarnoputri, wakil
     presiden kita, di TVRI ini.
     
     Saya bilang, saya setuju. Tapi, beliau kabarnya besok pagi akan
     pergi ke Bali. Nah, demikianlah yang terjadi, yaitu bahwa, Ibu
     Megawati pergi ke Bali. Pulangnya, flu berat. Sehingga oleh dokter
     tidak boleh keluar. Dan kemarin, Sidang Kabinet yang memimpin Bapak
     Susilo Bambang Yudhoyono, karena biasanya Ibu Megawati, yang sakit
     itu.
     
     Acara ini diteruskan walaupun tidak ada dia. Dan nanti akan
     dibacakan oleh Saudara Wimar Witoelar, susunan pidato, yang menjadi
     pidato saya pada malam ini. Isinya seirama dengan yang dilakukan
     atau yang diajukan oleh Ibu SK Trimurti tadi.
     
     Jadi, apa pembawa acara lupa mengatakan bahwa Ibu Trimurti ini
     usianya sudah 90 tahun. Dan, beliau ini dulu menteri perburuhan di
     dalam kabinet kita di masa pemerintahan yang baru saja merdeka.
     Beliau adalah pejuang yang luar biasa. Dan sampai saat ini masih
     menaruh minat sangat besar kepada perjuangan kita.
     
     Kalau tadi disinggung-singgung dia memukul-mukul dada saya, itu
     tanda sayangnya, lihat cucunya sudah besar. Kami jarang bertemu.
     Yah, demikianlah jadinya kalau jarang bertemu. Mudah-mudahan kita
     masih bisa mendapatkan restu dari beliau untuk bangsa yang damai
     dan bangsa yang besar serta jaya.
     
     Saya percaya akan hal ini dan kita, marilah memulai lembaran baru
     dalam kehidupan kita berbangsa yang nanti akan dilanjutkan dengan
     perubahan UUD pada tahun 2002. Sudah jelas setahun lagi lah.
     
     Dan juga untuk menjadi bangsa yang bener. Karena sekarang ini
     terjadi penafsiran bermacam-macam terhadap UUD. Suatu hal yang
     biasa saja.
     
     Maka di negari kita kalau sekarang ini orang lagi ketakutan, bahkan
     ada yang panik, saya sendiri sih berpendapat bahwa ini merupakan
     jatuh bangunnya sebuah bangsa. Kalau mau berdiri, mau besar, ya
     harus begini. Ya, artinya apa? Sebagai pohon yang tinggi, kita
     harus berani diterpa oleh angin yang kuat.
     
     Saya rasa demikianlah. Saya persilakan Saudara Wimar Witoelar
     membacakan pidato dari presiden. Terima kasih.
     
     Berikut isi pidato Gus Dur:
     
     Assalamualaikum Wr. Wb.
     
     Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, pada kesempatan ini, saya
     ingin mengajak segenap bangsa Indonesia untuk sejenak melihat
     kembali perjalanan sejarah yang telah kita lalui.
     
     Hal ini menjadi sangat penting, agar dalam meniti perjalanan bangsa
     ke depan, kita tidak terjebak ke dalam perilaku saling menyalahkan,
     saling curiga, saling menghujat dan saling menjatuhkan.
     
     Sejarah perjalanan bangsa ini, diawali dari zaman perjuangan yang
     diwarnai dengan tetesan darah, keringat dan air mata. Ketika bangsa
     kita hidup di bawah penindasan bangsa lain, peradaban kita sebagai
     bangsa terinjak-injak. Harkat dan martabat kita tidak ada sama
     sekali.
     
     Bangsa kita menjadi sapi perahan kaum penjajah yang dalam kurun
     waktu hampir 3,5 abad hidup dalam kesengsaraan. Kemudian bangkit
     semangat untuk melawan, melalui perjuangan panjang yang dilakukan
     oleh para pendahulu kita. Orang-orang tua kita.
     
     Maka dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, yang didorong oleh
     keinginan yang luhur, perjuangan bangsa ini sampai pada saat yang
     berbahagia, merdeka, berdaulat, dalam wadah negara kesatuan
     Republik Indonesia.
     
     Sehingga tepat pada tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung
     Hatta, atas nama bangsa Indonesia, memproklamirkan kemerdekaan
     Indonesia. setelah Indonesia merdeka, Bung Karno menjadi presiden
     pertama di negeri ini.
     
     Di bawah pemerintahan Presiden Soekarno, bangsa kita berkembang
     pesat. Hal itu dapat dibuktikan dengan begitu cepatnya bangsa
     Indonesia berada dalam posisi setara dengan bangsa-bangsa lain di
     mata dunia. Bung Karno selalu menunjukkan kepada dunia bahwa kita
     adalah bangsa yang besar.
     
     Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, perjalanan sejarah bangsa
     ini, bergulir dari waktu ke waktu. Pergeseran kepemimpinan pun
     terjadi. Dari presiden pertama Soekarno, kepada presiden kedua
     Soeharto.
     
     Pada kancah pemerintahan Presiden Soeharto, bangsa kita juga
     semakin berkembang. Bahkan sempat mencapai kejayaan. Nama Soeharto
     pun dikenal oleh dunia.
     
     Sayang sekali, seiring dengan kejayaan pemerintahannya, utang luar
     negeri kita membengkak sedemikian besarnya. Korupsi, kolusi dan
     nepotisme terjadi di mana-mana. Dan yang lebih menyedihkan, adalah
     adanya bukti-bukti sejarah yang diputarbalikkan.
     
     Perjalanan bangsa ini pun mulai terkotak-kotak dengan yang namanya
     orde. Pak Harto menamakan pemerintahan Presiden Soekarno sebagai
     Orde Lama dan menamakan pemerintahannya sebagai Orde Baru.
     
     Pada zaman pemerintahan Soeharto, sama sekali tidak terlihat adanya
     tanda-tanda kehidupan demokratis. Kejayaan pemerintahan Soeharto
     merupakan kejayaan semu. Kejayaan itu bagaikan fatamorgana. Hanya
     indah dipandang dari kejauhan.
     
     Pak Harto yang berkuasa selama 32 tahun, ternyata hanya menghantar
     bangsa ini ke jurang kehancuran. Sehingga, mau tidak mau kita harus
     menerima akibatnya. Menghadapi berbagai krisis dan berbagai
     permasalahan.
     
     Kemudian, melalui gerakan reformasi oleh para mahasiswa, yang
     menuntut adanya pembaharuan di segala bidang, pemerintahan Presiden
     Soeharto, yang identik dengan otoriternya, tumbang.
     
     Setelah itu terjadilah pemerintahan transisi, dari Presiden
     Soeharto kepada Wakil Presiden BJ Habibie, yang secara
     konstitusional berhak menggantikannya. Pemerintah Presiden BJ
     Habibie tidak bertahan lama.
     
     Yang berikutnya, bangsa kita menyelenggarakan euforia pemilihan
     umum. Dari hasil penghitungan suara terbanyak waktu itu, Pemilu
     dimenangkan oleh PDIP pimpinan Ibu Megawati Soekarnoputri.
     
     Tentunya beliau yang pantas menjadi presiden sekarang ini. Karena
     apa, karena beliau lah pemimpin partai yang memenangkan Pemilu
     dengan memperoleh suara jauh lebih besar dibandingkan dengan
     partai-partai lainnya.
     
     Namun, mengingat ketegangan politik sangat memuncak pada saat itu,
     bangsa kita seakan berada di ambang perpecahan. Kemudian Poros
     Tengah yang diprakarsai oleh Bapak Amien Rais mencoba mencari jalan
     keluar dari kemelut yang telah menghimpit bangsa.
     
     Dipilihlah saya untuk menjadi presiden, dengan alasan pada waktu
     itu, saya yang bisa diterima oleh segenap lapisan. Sehingga semua
     berharap saya mampu menjadi perekat bangsa. Dengan kata lain, saya
     menjadi presiden ini bukan karena saya orang hebat, tapi karena
     keadaan.
     
     Mungkin yang menjadi pertimbangan lain adalah, saya punya ummat,
     punya pengikut dan punya rakyat yang bukan hanya sekadar simpatisan
     partai. Antara saya dengan ummat, antara ummat dengan saya,
     terjalin hubungan batin yang sangat mahabbah. Arti kata mahabbah di
     sini adalah cinta.
     
     Mereka tersebar di seluruh Indonesia dan merupakan bagian besar
     dari penduduk bangsa ini. Sehingga kalau saya dipilih untuk menjadi
     perekat bangsa, mungkin itu dapat dimengerti.
     
     Namun yang paling saya hormati pada waktu itu, adalah sikap Ibu
     Megawati Soekarnoputri yang dengan legowo memberikan kesempatan
     kepada saya untuk memimpin bangsa ini.
     
     Lebih dari itu, beliau juga mampu meredam emosi pendukungnya, yang
     tentu saja sangat kecewa. Karena, orang yang dibanggakan, yang
     notabene sebagai pemimpin partai pemenang Pemilu, rela untuk tidak
     menjadi presiden.
     
     Andaikata pada waktu itu, Ibu Megawati bersikap sebagai pemimpin
     partai, tentu apapun alasannya, tidak akan mau menerima kenyataan
     itu. Tetapi, karena beliau bersikap sebagai negarawan sejati, di
     mana di dalam tubuh beliau mengalir darah Bung Karno, tidak ada
     yang lebih berharga bagi Ibu Megawati, kecuali utuhnya Negara
     Kesatuan Republik Indonesia, lestarinya Pancasila dan bersatunya
     anak bangsa.
     
     Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, setelah saya menjadi
     presiden, ternyata yang ada di depan saya, hanyalah puing-puing
     tajam reruntuhan pemerintah masa lalu, utang luar negeri yang
     sedemikian besar, perekonomian yang porak-poranda, kesenjangan
     sosial dan berbagai gejolak serta tuntutan-tuntutan muncul di
     mana-mana.
     
     Kondisi bangsa ini sungguh sangat memprihatinkan. Sekalipun dalam
     satu tahun, bangsa ini seratus kali ganti presiden, tidak akan ada
     yang mampu memulihkan perekonomian kita, yang memang sudah sangat
     terpuruk ini dalam waktu yang singkat.
     
     Sebenarnya, saya sedang melakukan langkah-langkah awal dalam
     menangani berbagai masalah yang sangat sulit dan kompleks ini.
     Hendaknya jangan terlalu cepat menilai saya tidak mampu menjalankan
     roda pemerintahan, kemudian berusaha menggulingkan saya dengan
     mencari kesalahan.
     
     Kalau kesalahan yang dicari, saya ini memang manusia biasa,
     tempatnya salah, tempatnya keliru. Kalau saya dianggap salah atau
     keliru, ya saya minta dimaklumi dan dimaafkan.
     
     Saya berharap kebekuan komunikasi politik seperti sekarang ini
     segera mencair, agar kita kembali bersahabat, tidak saling
     menjauhkan. Ketegangan politik yang terjadi pada akhir-akhir ini
     harus segera diselesaikan dengan mengedepankan kepentingan bangsa.
     
     Silaturahmi antara penyelenggara negara, baik presiden, wakil
     presiden, ketua MPR, ketua DPR dan pemimpin partai harus lebih
     banyak dilakukan. Kekuatan bangsa ini sangat terletak pada utuhnya
     persatuan. Kesulitan apapun yang dihadapi oleh bangsa ini akan
     dapat teratasi jika kita tetap bersatu dan terus bersatu.
     
     Satu hal yang dapat kita lakukan adalah dengan berusaha keras,
     menggali dan memanfaatkan segala potensi yang ada dengan tetap
     mengacu pada utuhnya Negara Kesatuan.
     
     Target yang harus saya capai adalah membangun ekonomi rakyat.
     Karena, jika ekonomi rakyat tidak dibangun sedemikian rupa, maka
     yang akan terjadi adalah kesenjangan sosial. Kesenjangan sosial itu
     akan menjadi jurang pemisah dan pada jurang pemisah itu akan tumbuh
     subur benih-benih perpecahan.
     
     Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, demi kelangsungan bangsa
     dan kelanjutan negeri ini, saya ingin menyampaikan satu hal yang
     sangat penting untuk diperhatikan oleh setiap bangsa, yaitu masalah
     orde.
     
     Kita harus kembali pada cita-cita proklamasi kemerdekaan, membangun
     bangsa, menyongsong masa depan Indonesia. Istilah Orde Lama, Orde
     Baru, Orde Reformasi dan berbagai orde lainnya yang akan muncul di
     kemudian hari, ada baiknya dihapus dan ditiadakan mulai dari
     sekarang.
     
     Karena apa, karena orde itu hanya akan mengkotak-kotakkan
     perjalanan bangsa. Bung Karno yang populer dengan sebutan
     proklamator bangsa, pembuka pintu gerbang kemerdekaan Indonesia,
     tidak mengenal dan tidak bersahabat dengan orde, dari zaman, dari
     generasi ke generasi, dari waktu ke waktu, baik yang sudah, sedang
     dan akan kita lalui, Bung Karno menyebutkannya sebagai perjalanan
     bangsa.
     
     Untuk itu, hentikan kebiasaan hujat-menghujat, hentikan segala
     bentuk tindak kekerasan, kehidupan demokrasi yang melindungi hak
     setiap individu warga negara dalam kebebasan beragama,
     berorganisasi, berpartai dan berpolitik.
     
     Ibu Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Umum PDIP dengan tegas
     telah menginstruksikan kepada partainya agar menghentikan segala
     bentuk tindak kekerasan.
     
     Pada saat ini juga, saya menginstruksikan kepada seluruh warga
     bangsa Indonesia, tanpa kecuali, agar menghentikan segala bentuk
     tindak kekerasan. Tidak saling menghujat, tidak pula saling
     menjatuhkan.
     
     Rakyat bangsa ini tengah merindukan kedamaian. Rakyat bangsa ini
     mendambakan kesejukan. Semoga pertemuan kita malam ini mencairkan
     ketegangan yang telah terjadi di antara kita. Semoga pertemuan kita
     malam ini, berlimpah rahmat dan barokah Allah SWT, sehingga bangsa
     kita kembali bersatu. Negeri ini kembali jaya dan bumi persada kita
     kembali berselimut damai. Terima kasih.
     
     Waalaikumsalam Wr. Wb.

Auditorium Stasiun TVRI Jakarta,
     Jumat (27/4/2001) malam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar